BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Malaria
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium.
Malaria pada manusia dapat disebabkan oleh P. malariae, P.vivax, P.
falciparum dan P. ovale. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk
betina dari Anopheles, sehingga terjadi infeksi pada sel darah merah
oleh Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles,
transfusi darah, dan suntikan dengan jarum yang sebelumnya telah digunakan oleh
penderita malaria. Pada tubuh manusia, parasit membelah diri dan bertambah
banyak di dalam hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.(10)
Telah
ditemukan 67 spesies yang dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan
di Indonesia. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan secara
langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta
dari ibu hamil kepada bayinya.(10)
Di
Indonesia malaria ditemukan tersebar luas di semua pulau dengan derajat dan
berat infeksi yang berbada-beda. Penyakit tersebut dapat berjangkit di daerah
yang mempunyai ketinggian sampai dengan 1.800 meter diatas permukaan laut.
Spesies terbanyak yang dijumpai adalah P. falciparum, P. vivax, P. ovale,
yang pernah ditemukan di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Kondisi wilayah dengan
adanya genangan air dan udara yang panas mempengaruhi tingkat endemisitas
penyakit malaria di suatu daerah.
Setiap
tahunnya, sekitar 1,2 juta orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit
malaria. Demikian menurut data terbaru yang dimuat dalam jurnal kesehatan
Inggris, The Lancet. Angka yang dilansir itu jauh lebih tinggi dari perkiraan
WHO tahun 2010 yakni 655.000.
Banyak
yang mengira penyakit malaria sama dengan demam berdarah karena punya gejala
yang mirip dan sama-sama ditularkan oleh nyamuk. Namun perlu diketahui bahwa
keduanya berbeda. Malaria disebabkan oleh nyamuk anopheles yang membawa parasit
plasmodium, sementara demam berdarah disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang
membawa virus Dengue.
B. TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas
dari dosen pembimbing, selain itu penulisan makalah ini juga bertujuan untuk
membuka wawasan dan cara berpikir kita agar dapat memahami berapa pentingnya
menjaga kesehatan
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Malaria
1. Definisi Malaria
Malaria adalah salah satu
penyakit menular yang bersifat akut maupun kronis. Terdiri dari kata mal dan
area yang berarti udara yang busuk, diambil dari kondisi yang terjadi yaitu
suatu penyakit yang banyak diderita masyarakat yang tinggal di sekitar
rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk (Gandahusada dkk,1998). Penyakit malaria
merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit malaria, suatu protozoa darah
genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk anopheles betina yang
terinfeksi (Nugroho,2000).
2. Gejala Klinis Malaria
Gejala klinis malaria merupakan petunjuk
yang penting dalam diagnosis malaria. Manifestasi klinis malaria sangat khas
dengan adanya serangan demam yang intermitten, anemia dan splenomegali.
Penyakit ini cenderung untuk beralih dari demam akut ke keadaan menahun. Selama
stadium akut terdapat masa demam yang intermitten. Sedangkan pada infeksi oleh plasmodium vivax,
panas bersifat ireguler, kadang-kadang remiten atau intermiten. Dalam stadium menahun berikutnya terdapat
masa laten yang diselingi kambuh
beberapa kali. Kambuhnya penyakit
ini sangat mirip dengan serangan pertama. Sementara itu rekrudensi sering
terjadi pada infeksi yang disebabkan plasmodium
malariae ( Harijanto,2010).
Demam yang terjadi pada
penderita berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit/skizon). Berat
ringannya pun tergantung pada jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. Di
Indonesia sampai saat ini terdapat empat macam plasmodium penyebab infeksi
malaria yaitu :
a. Plasmodium
falciparum penyebab malaria
tropika yang menimbulkan demam tiap 24-48 jam,
b. Plasmodium
vivax penyebab malaria tertiana
yang menimbulkan demam tiap hari ke 3
c. Plasmodium
malariae penyebab malaria
kuartana yang menimbulkan demam tiap hari ke 4
d. Plasmodium
ovale penyebab malaria ovale,
memberikan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh spontan tanpa
pengobatan (Harijanto, 2010).
Selain itu, pada
infeksi malaria terdapat gejala klasik malaria akut yang sering di sebut Trias
Malaria, secara berurutan :
a. Periode dingin.
Stadium ini mulai dengan menggigil, kulit dingin dan kering. Gigi gemeretak dan penderita
biasanya menutup tubuhnya dengan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah.
Bibir dan jari pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat. Stadium ini
berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam. diikuti meningkatnya temperatur.
b. Periode demam
Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Suhu badan dapat meningkat sampai 40°C atau lebih. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, nadi cepat, respirasi meningkat, muntah-muntah dan dapat terjadi syok (tekanan darah turun) bahkan sampai terjadi kejang (pada anak). Stadium ini berlangsung lebih lama dari periode dingin, antara 2 sampai 4 jam. Demam disebabkan oleh pecahnya sison darah yang telah matang dan masuknya merozoit ke dalam aliran darah.
c. Periode Berkeringat.
Pada periode
ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah.
Temperatur turun dan penderita merasa capek dan biasanya dapat tidur nyenyak.
Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium
ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Gejala-gejala yang disebutkan di atas
tidak selalu sama pada setiap penderita, tergantung pada spesies parasit dan
umur dari penderita, gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria
tropika. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit
dan sison). Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati
dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ
tubuh tersebut.
3. Diagnosis malaria
Diagnosis malaria umumnya didasarkan pada manifestasi
klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit
(plasmodium) dalam darah penderita. Manifestasi klinis demam malaria seringkali
tidak khas dan menyerupai penyakit infeksi lain seperti demam dengue dan demam
tifoid, sehingga sulit dilakukan diagnosa dengan mengandalkan pengamatan secara
klinis saja, namun perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang
diagnosis malaria sedini mungkin. Pemeriksaan mikroskopis membutuhkan
syarat-syarat tertentu agar di peroleh nilai diagnostik yang tinggi yaitu
dengan sensivitas dan spesifitas yang
tinggi. Syarat-syarat tersebut meliputi:
a. Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada
akhir peroide demam memasuki periode berkeringat karena pada periode ini jumlah
trofozoit mencapai jumlah maksimal dalam sirkulasi.
b. Volume darah yang diambil sebagai sampel cukup
untuk sediaan darah tipis ( 1 – 1,5 mikroliter) dan sediaan darah tebal (3-4
mikroliter)
c. Kualitas preparat harus baik agar terjamin
kualitas identifikasi spesies plasmodium dengan tepat (Purwaningsih, 2000).
4. Epidemiologi Malaria
Penularan
malaria banyak terjadi pada kebanyakan daerah tropis dan sub tropis, terutama terdapat pada daerah dimana
orang-orang mempunyai gametosit dalam
darahnya sehingga menjadikan nyamuk anopheles terinfeksi dan menularkan pada
orang yang sehat. Walaupun Amerika
Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan Israel sekarang bebas malaria lokal, wabah setempat dapat terjadi
melalui infeksi nyamuk lokal oleh wisatawan yang datang dari daerah endemis
(Nelson, 2000).
Daerah
yang sejak semula bebas malaria adalah Pasifik Tengah dan Selatan (Hawai dan
Selandia Baru). Ini terjadi karena di daerah tersebut malaria tidak dapat
berlangsung dalam tubuh nyamuk anopheles
(Anophelism without malaria)
karena kondisi iklim/temperatur yang tidak sesuai (Sutanto dkk, 2008).
Batas dari penyebaran malaria adalah 64°LU (Rusia) dan 32°LS
(Argentina) dengan ketinggian yang dimungkinkan adalah 400 meter di bawah permukaan laut (Laut mati) dan 2600 meter di atas permukaan laut (Bolivia). Plasmodium vivax mempunyai distribusi
geografis yang paling luas, mulai dari daerah beriklim dingin,
subtropik sampai ke daerah tropik. Plasmodium ovale pada umumnya dijumpai
di Afrika di bagian yang beriklim tropik, kadang-kadang dijumpai
di Pasifik Barat
(Rampengan, 2010). Di Asia Tenggara
negara-negara yang termasuk wilayah endemi malaria adalah : Bangladesh, Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar,
Nepal, Srilanka dan Thailand.
Di Indonesia penyakit
malaria tersebar di seluruh pulau dengan derajat
endemisitas yang berbeda-beda dan dapat berjangkit di daerah dengan ketinggian sampai 1800 meter di atas permukaan laut. Penduduk yang paling berisiko terkena malaria adalah anak
balita, wanita hamil dan penduduk non imun yang mengunjungi daerah endemik
malaria. Angka API di pulau Jawa dan
Bali pada tahun 2000 ialah 0,81 per 1000 penduduk turun menjadi 0,15 per 1000 penduduk pada tahun 2004. Sedangkan di luar Jawa-Bali angka AMI tetap tinggi
yaitu 31,09 per 1000 penduduk pada tahun
2000, turun menjadi 20,57 per 1000 penduduk tahun 2004. Spesies yang terbanyak dijumpai
adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium
vivax, Plasmodium
malaria banyak dijumpai di
Indonesia bagian Timur
sedangkan Plasmodium ovale pernah ditemukan di Irian dan Nusa Tenggara Timur (Rampengan, 2010).
5.
Siklus
Hidup Parasit Malaria
a.
Siklus
Aseksual Dalam Tubuh Manusia
1)
Siklus
di luar sel darah merah
Siklus di luar sel darah merah (eksoeritrositer)
berlangsung dalam hati. Stadium ini dimulai saat nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan memasukan sporozoit yang
terdapat pada air liurnya ke dalam darah manusia. Beberapa menit kemudian
(0,5-1 jam) sporozoit tiba di hati dan menginfeksi hati. Di hati sporozoit
mengalami reproduksi aseksual (skizogoni) atau proses pemisahan dan
menghasilkan parasit anak (merozoit) yang kemudian akan di keluarkan
dari sel hati. Pada plasmodium vivax dan plasmodium
ovale ditemukan dalam bentuk laten dalam hati yang disebut hipnosoit, yang
merupakan suatu fase hidup parasit malaria yang nantinya dapat menyebabkan
kumat/kambuh/rekurensi (long term relapse). P.vivax
dapat kambuh berkali-kali sampai jangka waktu 3-4 tahun sedangkan P. Ovale sampai bertahun-tahun jika
tidak di obati dengan baik.
2)
Siklus
dalam sel darah merah
Siklus dalam darah dimulai dengan keluarnya merozoit dari
skizon matang di hati ke sirkulasi. Siklus dalam sel darah merah (eritrositer)
ini terbagi menjadi siklus sisogoni yang menimbulkan demam dan siklus
gametogoni yang menyebabkan seseorang menjadi sumber penularan bagi nyamuk
(Depkes RI,1999).
b.
Siklus
Seksual Dalam Tubuh Nyamuk
Gametosit matang dalam darah penderita yang terhisap oleh
nyamuk akan mengalami pematangan menjadi gamet (gametogenesis) sedangkan
parasit malaria yang berbentuk trofozoit, skizon, merozoit dicerna dalam
lambung nyamuk. Mikro gametosit membelah menjadi 4-8 mikro gamet (gamet jantan)
dan makro gametosit mengalami kematangan menjadi makro gamet (gamet betina).
Kemudian pembuahan terjadi antara mikro gamet dan makro gamet yang disebut
zigot. Pada mulanya berbentuk bulat kemudian berubah menjadi memanjang dan
dapat bergerak dan disebut ookinet. Ookinet menembus dinding lambung dan
menjadi bentuk bulat disebut ookista. Ookista makin lama makin besar dan di
dalamnya intinya membelah-belah dan masing-masing inti diliputi protoplasma dan
mempunyai bentuk memanjang (10-15 mikron) di sebut sporozoit. Ookista akan
pecah dan ribuan sporozoit akan dibebaskan dalam rongga nyamuk yang kemudian
akan mencapai kelenjar liur. Nyamuk anopheles
betina menjadi siap menularkan penyakit malaria. Prinsip pemberantasan malaria
antara lain didasarkan pada siklus ini yaitu dengan mengusahakan umur nyamuk
lebih pendek dari masa inkubasi ekstrinsik sehingga siklus sporogoni (karena
menghasilkan sporozoit) tidak dapat berlangsung (Gandahusada,1998). Berikut gambar siklus hidup parasit malaria
dalam tubuh nyamuk dan manusia (Tetriana, 2007):

Gambar 2.1 Siklus Hidup Parasit
Malaria
6. Cara Penularan
a. Penularan secara alamiah (natural
infection) terjadi pada nyamuk anopheles.
b.
Penularan
tidak alamiah
1)
Malaria
bawaan (kongenital), terjadi pada bayi yang
baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali
pusat atau plasenta.
2)
Secara
Mekanik, penularan terjadi melalui transfusi
darah atau melalui jarum suntik
yang tidak steril. Penularan lewat jarum suntik juga banyak
terjadi pada pecandu obat bius yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril.
Malaria lewat transfusi hanya menghasilkan siklus eritrositer karena tidak
melalui sporozoit yang memerlukan siklus hati sehingga dapat di obati dengan
mudah
3)
Secara
Oral, cara penularan ini pernah
dibuktikan pada burung, ayam (P.gallinasium),
burung dara (P.Relection) dan monyet
(P.Knowlesi) yang akhir-akhir ini dilaporkan menginfeksi
manusia (Rampengan, 2010).
7.
Penilaian
Situasi Malaria
Surveilans
epidemiologi terhadap penyakit dapat menentukan penilaian situasi suatu
penyakit, di antaranya malaria. Pengamatan yang terus menerus atas distribusi
dan kecenderungan penyakit malaria melalui pengumpulan data yang sistematis
sangat diperlukan untuk penentuan penanggulangan yang terbaik dan tepat
sasaran. Untuk pengamatan rutin malaria
beberapa parameter yang digunakan seperti di bawah ini :
a.
Annual Parasite Incidence (API) yaitu jumlah sediaan darah yang
positif dari sejumlah sediaan darah yang diperiksa per tahun, biasanya
dinyatakan dalam per 1000 penduduk. Angka ini dipakai untuk wilayah Jawa dan
Bali.
b.
Annual Malaria Incidence (AMI) yaitu jumlah malaria klinis
tanpa pemeriksaan laboratorium per tahun dibandingkan dengan jumlah penduduk.
Angka ini dinyatakan dalam per 1000
penduduk dan dipakai untuk wilayah luar Jawa dan Bali yang belum semunya dapat
dilakukan pemeriksaan laboratorium akibat keterbatan sumber daya.
c.
Parasite Rate (PR) adalah persentase penduduk yang
darahya mengandung parasit malaria pada saat tertentu. Kelompok umur yang dicakup biasanya yang
berusia 2-9 tahun dan 0 -1 tahun. PR pada golongan 0 -1 disebut Infant
Parasite Rate (IPR) yang bermakna adanya transmisi lokal.
d.
Spleen
Rate (SR),
merupakan persentase orang dengan pembesaran limfa dalam masyarakat. Angka
limfa ini merupakan petunjuk bahwa suatu daaerah endemis malaria.
e.
Slide Positive Rate (SPR), adalah persentase sediaan darah yang positif
pada kegiatan penemuan kasus, dilakukan secara aktif maupun pasif dibandingkan
dengan seluruh sediaan darah yang di periksa.
8.
Pemberantasan
Malaria
Setiap upaya pemberantasan malaria yang dilakukan bertujuan untuk
menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini
tidak lagi merupakan masalah kesehatan.
Hal mendasar yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit ini adalah
dengan memutuskan mata rantai daur hidup parasit dalam tubuh manusia serta
memusnahkan nyamuknya.
Berbagai
kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian malaria ialah :
a. Menghindari/mengurangi gigitan nyamuk
anopheles dengan pemakaian kelambu, repelen dan obat nyamuk.
b. Membunuh nyamuk dewasa dengan
menggunakan insektisida
c. Membunuh jentik baik secara kimiawi
(larvasida ) maupun secara biologik (ikan pemakan jentik, tumbuhan, penggunaan
bacillus thurigiensis).
d. Mengurangi tempat perindukan (source reduction) dengan modifikasi dan
manipulasi lingkungan. Modifikasi
dilakukan seperti menimbun tempat-tempat tergenang atau mengeringkannya sedangkan manipulasi merupakan upaya mengubah
keadaan lingkungan sedemikian rupa sehingga tidak cocok untuk perkembangan
vektor.
e. Mengobati penderita malaria.
f. Pemberian pengobatan pada penderita.
Pemberian profilaksis, terutama bagi
mereka yang akan bepergian ke tempat –tempat yang endemis malaria.
9.
Pengobatan
Malaria
Pengobatan
malaria didasarkan pada ada tidaknya parasit malaria dan seharusnya tidak hanya
didasarkan pada gejala klinis. Sebaliknya pada banyak individu yang imun
(tinggal di daerah endemik) ditemukan parasit malaria dalam darahnya namun
tidak ditemukan gejala malaria seperti demam. Pada keadaan ini seharusnya
diberikan pengobatan untuk mencegah transmisi dan kemungkinan menjadi malaria
berat, terutama pada anak-anak dan orang dewasa non imun, malaria dapat
berkembang cepat menjadi keadaan yang
buruk. Kegagalan pada pengobatan malaria ringan dapat menyebabkan terjadinya
malaria berat, meluasnya malaria karena transmisi infeksi, menyebabkan infeksi
berulang dan bahkan timbulnya resistensi
Tujuan pengobatan secara umum
adalah untuk mengurangi kesakitan, mencegah kematian, menyembuhkan penderita
dan mengurangi kerugian akibat sakit. Selain itu upaya pengobatan mempunyai
peranan penting yaitu mencegah kemungkinan terjadinya penularan penyakit dari
seorang yang menderita malaria kepada orang-orang sehat lainnya.
Pengobatan
malaria yang tidak tepat dapat menyebab resistensi, sehingga menyebabkan
meluasnya malaria dan meningkatnya morbiditas. Untuk itu WHO telah
merekomendasikan pengobatan malaria secara global dengan penggunaan regimen
obat ACT (Artemisin Combination Therapy) dan telah disetujui
oleh Depkes RI sejak tahun 2004 sebagai obat lini I diseluruh Indonesia.
Pengobatan dengan ACT harus disertai dengan kepastian ditemukannya parasit
malaria secara mikroskopik atau sekurang-kurangnya dengan pemeriksaan RDT (Rapid Diagnostic Test). Pengobatan ACT
yang direkomendasikan meliputi :
1. Kombinasi artemeter + lumefantrin (AL)
2. Kombinasi artesunate + amodikuin
3. Kombinasi artesunate + meflokuin
4. Kombinasi artesunate + sulfadoksin –
pirimetamin
Berikut ini adalah penatalaksanaan
malaria ringan/tanpa komplikasi berdasarkan konsensus Departemen Kesehatan,
rekomendasi Tim ahli Malaria Depkes RI serta pedoman WHO tahun 2006 :
1. Pengobatan Malaria P. falciparum
Lini I : Artesunate + Amodikuin (1
tablet artesunate 50 mg dan 1 tablet amodikuin 200 mg. Dosis artesunate ialah 4
mg/kg BB/hari selama 3 hari dan dosis amodiakuin ialah 10 mg/kg BB/hari selama
3 hari.
Tabel 2.1. Pengobatan Lini I,
Plasmodium Falciparum berdasarkan Usia
|
Hari
|
Jenis Obat
|
Jumlah tablet menurut kelompok umur
|
|||||
|
Dosis Tunggal
|
0-1 bulan
|
2-11 bulan
|
1-4 tahun
|
5-9 tahun
|
10-14 tahun
|
> 15 tahun
|
|
|
1
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Primakuin
|
-
|
-
|
3/4
|
1 1/2
|
2
|
2-3
|
|
2
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
3
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
Pada kasus-kasus dengan kegagalan
artesunate+amodiakuin maka Kombinasi artemeter-lumefantrin (AL) dapat di pakai sebagai obat pilihan pertama
2. Pengobatan Malaria oleh P.
vivax/ovale/malariae
Tabel 2.2 Pengobatan Lini I malaria
vivaks dan malaria ovale
|
Hari
|
Jenis Obat
|
Jumlah tablet menurut kelompok umur
|
|||||
|
Dosis Tunggal
|
0-1 bulan
|
2-11 bulan
|
1-4 tahun
|
5-9 tahun
|
10-14 tahun
|
> 15 tahun
|
|
|
1
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Primakuin
|
-
|
-
|
1/4
|
1/2
|
3/4
|
1
|
|
2
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Primakuin
|
-
|
-
|
1/4
|
1/2
|
3/4
|
1
|
|
3
|
Artesunate
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Amodiakuin
|
1/4
|
1/2
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|
|
Primakuin
|
-
|
-
|
1/4
|
1/2
|
3/4
|
1
|
|
4-14
|
Primakuin
|
-
|
-
|
1/4
|
1/2
|
3/4
|
1
|
Jika terjadi kegagalan pengobatan lini
I maka dapat digunakan kombinasi dihidroartemisin+piperakuin atau
artemeter-lumefantrin atau artesunate + meflokuin (Harijanto, 2010)
B. Vektor Malaria
Nyamuk anopheles di seluruh dunia meliputi ± 2000 spesies, yang ada di
Indonesia berjumlah lebih dari 80 spesies, namun tidak semua jenis spesies
anopheles berperan penting dalam penularan.
Sampai saat ini di Indonesia telah ditemukan sejumlah 24 spesies anopheles yang dapat menularkan malaria.
Semua vektor tersebut hidup sesuai dengan kondisi ekologi setempat. Berikut beberapa jenis vektor anopheles yang predominan di Nusa
Tenggara Timur (Gunawan,2000):
1. Anopheles aconitus
Vektor jenis An. aconitus betina paling sering menghisap darah ternak
dibandingkan darah manusia. Perkembangan vektor jenis ini sangat erat
hubungannya dengan lingkungan dimana kandang ternak yang ditempatkan satu atap
dengan rumah penduduk.
Vektor An.aconitus biasanya aktif mengigit pada waktu malam hari,
hampir 80% dari vektor ini bisa dijumpai di luar rumah penduduk antara jam 18.00 -22.00. Nyamuk
jenis An. aconitus ini hanya mencari darah di dalam rumah penduduk, setelah itu
biasanya langsung keluar. Nyamuk ini biasanya suka hinggap di daerah-daerah yang lembab seperti di pinggir-pinggir parit, tebing sungai, dekat air yang selalu
basah dan lembab. Tempat perindukan vektor An. aconitus terutama di daerah persawahan dan saluran irigasi. Persawahan yang berteras
merupakan tempat yang baik untuk perkembangan nyamuk ini.
2. Anopheles sundaicus
Pada vektor jenis ini umurnya lebih sering
menghisap darah manusia dari pada darah binatang. Nyamuk ini aktif menggigit
sepanjang malam tetapi paling sering antara pukul 22.00 - 01.00 dini hari. Pada
waktu malam hari nyamuk masuk ke dalam rumah untuk mencari darah, hinggap di dinding baik sebelum maupun sesudah menghisap darah.
Vektor An.
sundaicus biasanya berkembang biak di air payau, yaitu
campuran antara air tawar dan air asin, dengan kadar garam optimum antara 12%
-18%. Penyebaran jentik di tempat
perindukan tidak merata di permukaan
air, tetapi terkumpul di tempat-tempat tertutup seperti
di antara tanaman air yang mengapung, sampah dan
rumput - rumput di pinggir sungai atau pun parit.
3. Anopheles maculatus.
Vektor An.
maculatus betina lebih sering menghisap darah binatang daripada darah manusia. Vektor jenis
ini aktif mencari darah pada malam hari antara pukul 21.00 hingga 03.00.
Nyamuk ini berkembang biak di daerah pegunungan, dimana tempat perindukan yang spesifik vektor An. maculatus adalah di sungai yang kecil dengan air jernih, mata air
yang mendapat sinar matahari langsung. Di kolam dengan air jernih juga ditemukan jentik nyamuk ini, meskipun densitasnya
rendah. Densitas
An. maculatus tinggi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan
vektor jenis ini agak berkurang karena tempat perindukan hanyut terbawa banjir.
- Anopheles barbirostris.
Jenis nyamuk ini
di Sumatera dan Jawa jarang menggigit orang tetapi lebih sering dijumpai
menggigit binatang peliharaan. Sedangkan pada daerah Sulawesi, Nusa Tenggara
Timur dan Timor-Timur nyamuk ini lebih sering menggigit manusia daripada
binatang. Jenis nyamuk ini biasanya mencari darah pada waktu malam hingga dini
hari berkisar antara pukul 23.00 - 05.00.
Frekuensi mencari darah tiap tiga hari sekali. Pada siang hari nyamuk jenis ini
hanya sedikit yang dapat ditangkap, di dalam
rumah penduduk, karena tempat istirahat nyamuk ini adalah di alam terbuka, paling sering hinggap pada pohon-pohon dan tanaman perdu
disekitar rumah. Tempat berkembang biak (perindukan)
vektor ini biasanya di sawah-sawah dengan saluran
irigasinya kolam dan rawa-rawa (Hiswani,2004).
5.
Anopheles balabacensis
Spesies ini merupakan spesies yang
antropofilik, lebih menyukai darah manusia ketimbang darah binatang. Nyamuk ini
mempunyai kebiasaan menggigit pada tengah malam hingga menjelang fajar sekitar
jam 4 pagi. Spesies ini memiliki habitat asli di hutan-hutan berkembang biak di
genangan air tawar. Pada siang hari sulit sekali menemukan nyamuk ini dalam
rumah. Mereka lebih menyukai hutan-hutan atau semak di sekitar pekarangan
rumah.
6.
Anopheles subpictus
Anopheles
subpictus lebih menyukai darah ternak ketimbang darah manusia. Nyamuk ini
aktif sepanjang malam dan beristirahat di dinding rumah. Jentik nyamuk ini
sering dijumpai bersama jentik An.
sundaicus, namun lebih toleran terhadap salinitas yang rendah mendekati
tawar (Achmadi,2005)
C. Beberapa faktor Yang mempengaruhi Kejadian Malaria
1.
Faktor
Manusia ( Host)
a. Karakteristik manusia
1)
Umur
Anak-anak lebih
rentan terhadap infeksi malaria. Beberapa studi menunjukkan bahwa anak yang bergizi baik justru lebih
sering mendapat kejang dan malaria
serebral dibanding dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang
bergizi baik dapat mengatasi malaria
berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk (Gunawan,2000).
2)
Jenis Kelamin
Infeksi malaria tidak
membedakan jenis kelamin, tetapi apabila menginfeksi ibu yang sedang hamil akan
menyebabkan anemia yang berat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan
mempunyai respon yang kuat dibandingkan laki-laki, namun kehamilan menambah
risiko malaria.
3)
Imunitas
Orang yang pernah terinfeksi malaria
sebelumnya biasanya terbentuk imunitas dalam tubuhnya, demikian juga yang
tinggal di daerah endemis biasanya mempunyai imunitas alami terhadap malaria.
4)
Ras
Beberapa ras di Afrika mempunyai kekebalan terhadap malaria,
misalnya sickle cell anemia dan
ovalositas. Plasmodium falciparum
dapat gagal matang pada anak dengan dengan sel sabit serta tidak mampu mencapai
densitas tinggi pada anak dengan defisiensi glukose-6-fosfat
dehidrogenase (Nelson,2000).
5)
Status gizi
Masyarakat dengan
gizi kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap
infeksi malaria. Hubungan antara penyakit malaria dan kejadian Kurang Energi Protein (KEP) merupakan masalah yang hingga saat ini
masih kontrovesial. Ada kelompok peneliti yang berpendapat bahwa penyakit
malaria menyebabkan kejadian KEP, tetapi sebagian peneliti berpendapat bahwa
keadaan KEP yang menyebabkan anak mudah terserang penyakit malaria. Rice et al.
mengatakan terdapat hubungan yang kuat antara malnutrisi dalam hal meningkatkan
risiko kematian pada penyakit infeksi termasuk malaria pada anak-anak di negara
berkembang. Penelitian Shankar yang menguji hubungan antara malaria dan status
gizi menunjukkan bahwa malnutrisi protein dan energi mempunyai hubungan dengan
morbiditas dan mortalitas pada berbagai malaria (Wanti,2008). Penelitian yang dilakukan oleh Suwadera menunjukkan bahwa
balita dengan status gizi kurang berisiko menderita malaria 1,86 kali
dibandingkan dengan yang berstatus gizi baik.
b. Perilaku manusia
Manusia dalam
keseharian mempuyai aktifitas yang beresiko untuk terkena panyakit malaria,
diantaranya :
1)
Kebiasaan
untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat
eksofilik dan eksofagik akan memudahkan kontak dengan nyamuk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwito
(2005) menunjukkan bahwa responden yang mempunyai kebiasaan keluar rumah pada
malam hari mempunyai risiko menderita malaria 4 kali lebih besar di banding
dengan yang tidak mempunyai kebiasaan keluar pada malam hari.
2)
Tingkat
kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan
masyarakat untuk memberantas malaria
dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu. Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Babba (2009) diperoleh bahwa orang yang tidur malam tidak
menggunakan kelambu, mempunyai risiko terjangkit malaria sebesar 2,28 kali
lebih besar dibandingkan yang menggunakan kelambu.
3)
Memasang
kawat kasa pada rumah dapat mengurangi masuknya nyamuk ke dalam rumah untuk
menggigit manusia. Hasil penelitian Suwadera (2003) bahwa ada hubungan
ventilasi yang di lengkapi kasa dengan kejadian malaria pada balita. Balita
yang tinggal dalam rumah tidak di lengkapi dengan kawat kasa akan berisiko
terkena malaria sebesar 3,41 kali dibandingkan balita yang tinggal di rumah
dengan ventilasi memakai kawat kasa.
4)
Menggunakan
obat nyamuk maupun repelen dapat menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, baik
hanya bersifat menolak ataupun membunuh nyamuk. Mereka yang mempunyai kebiasaan
tidak menggunakan obat nyamuk mempunyai risiko terkena malaria sebesar 10,8
kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menggunakan obat anti nyamuk
(Suwito,2005).
Selain perilaku-perilaku tersebut, berbagai kegiatan manusia seperti
pembendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pembangunan
pemukiman/transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan yang
menguntungkan penularan malaria. Selain hal tersebut diatas, terdapat juga
beberapa karakteristik dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya malaria
seperti pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan pendapatan.
Pendidikan yang semakin tinggi diharapkan berbanding lurus dengan tingkat
pengetahuan, terutama untuk pencegahan malaria. Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Yahya, dkk (2005) makin tinggi tingkat pendidikan ibu cenderung makin
tinggi tingkat pengetahuannya tentang malaria pada anak. Hal ini sesuai dengan
hasil penelitian Babba (2008) bahwa ada hubungan antara pendidikan yang rendah
dengan kejadian malaria dengan risiko terkena malaria sebesar 2,23 kali
dibanding dengan orang yang berpendidikan tinggi.
Pekerjaan
yang dilakukan seseorang mempunyai peranan dalam kejadian malaria. Hasil penelitian oleh Balai
Penelitian
Vektor dan Reservoar
Penyakit (BPVRP)
juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaaan yang berkaitan dengan pertanian mempunyai risiko
untuk menderita malaria sebesar 4,1 kali lebih besar daripada yang bekerja
selain dibidang pertanian.
Pendapatan
berkaitan dengan kemampuan responden untuk mengupayakan pencegahan atau
meminimalkan kontak dengan nyamuk misalnya dengan penggunaan kawat kasa atau
membeli obat anti nyamuk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Babba (2008)
menunjukkan bahwa orang yang mempunyai penghasilan yang kurang mempunyai risiko
sebesar 4, 32 kali untuk menderita malaria.
2.
Nyamuk
Nyamuk
anopheles terutama hidup didaerah
tropik dan sub tropik, namun dapat juga hidup di daerah beriklim sedang bahkan
dapat hidup di daerah Arktika. Jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari
2000-2500 m. Efektifitas vektor untuk
menularkan dipengaruhi hal-hal berikut :
a.
Kepadatan
vektor dekat pemukiman manusia
b.
Kesukaan
menghisap darah manusia
c.
Frekuensi
menghisap darah (tergantung pada suhu)
d.
Lamanya
sporogoni (berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi infektif)
e.
Lamanya hidup
nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi (Gunawan,2000).
Selain itu, perilaku
nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria. Beberapa yang penting
meliputi :
a.
Tempat
istirahat di dalam rumah atau luar rumah (endofilik dan eksofilik)
b.
Tempat
menggigit di dalam rumah atau luar rumah (endofagik dan eksofagik)
c.
Obyek yang di
gigit, suka menggigit manusia atau hewan
(antrofofilik dan zoofilik).
3.
Faktor
Lingkungan
a. Lingkungan Fisik
1)
Suhu Udara
Suhu udara berpengaruh
terhadap lamanya masa inkubasi ekstrinsik (panjang pendeknya siklus
sprorogoni). Hal ini berperan dalam transmisi malaria. Semakin tinggi suhu antara 20-30 ᵒC akan berakibat pada makin pendeknya masa
inkubasi ekstrinsik, begitu juga sebaliknya. Pengaruh suhu terhadap
masing-masing spesies tidak sama. Pada suhu 26,7 ᵒC masa inkubasi ekstrinsik
pada spesies plasmodium berbeda yaitu : plasmodium
falciparum (10-12 hari), P. Vivax (8-11hari), P.
Malariae (14 hari) dan P. Ovale (
15 hari) ( Subbarao, 1998)
2)
Kelembaban
udara
Kelembaban yang rendah
memperpendek umur nyamuk, dengan tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling
rendah untuk hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi
lebih aktif dan lebih sering menggigit.
3)
Ketinggian
Secara umum malaria berkurang
pada ketinggian yang semakin bertambah, ini berkaitan dengan menurunnya suhu
rata-rata. Pada ketinggian diatas 2000 m jarang ada transmisi malaria, namun
ini bisa berubah dengan adanya pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino. Ini
menyebabkan terjadinya perubahan pola musim di Indonesia yang berpengaruh
terhadap perilaku nyamuk.
4)
Angin
Kecepatan dan arah
angin berpengaruh terhadap kemampuan jarak terbang (flight range) nyamuk.
Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam berpengaruh terhadap
nyamuk yang keluar masuk rumah. Jarak terbang nyamuk dapat diperpendek atau
diperpanjang sebagai akibat pengaruh adanya kecepatan angin.
5)
Hujan
Siklus hidup dan perkembangan
nyamuk dapat dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan. Hujan yang di selingi
panas akan memperbesar kemungkinan perkembang biakan nyamuk anopheles
berlangsung sempurna. Tetapi tidak semua
spesies mempunyai kecenderungan yang sama.
6)
Sinar
matahari
Sinar matahari memberikan
pengaruh berbeda pada spesies nyamuk. Nyamuk An. Aconitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak dalam
badan air yang ada sinar mataharinya dan ada peneduh. Spesies yang lain lebih
menyukai tempat yang rindang. Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan
larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles
sundaicus lebih suka di tempat yang teduh, Anopheles hyrcarnus spp. Lebih suka di tempat yang terbuka
sedangkan Anopheles balabacensis
dapat hidup beradaptasi baik di tempat yang teduh maupun yang terang. Jentik An.maculatus di Kabupaten Banjarnegara (Yunianto,dkk.,2002)
banyak ditemukan di antara batuan atau di bawah tanaman air yang terlindung
dari sinar matahari langsung.
7)
Arus air
An. Balabacensis lebih menyukai tempat perindukan yang airnya tergenang atau mengalir
sedikit, An. minimus menyukai tempat
perindukan yang aliran airnya cukup deras dan An. letifer menyukai tempat yang airnya tergenang. Menurut laporan
penelitian (Yunianto,2002) menyatakan bahwa An.
maculatus berkembangbiak pada genangan
air di pinggir sungai dengan aliran lambat atau berhenti.
Selain hal
tersebut diatas, beberapa lingkungan fisik yang terdapat disekitar manusia dan
dalam kondisi yang sesuai dapat meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk
infeksius, diantaranya seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk, tempat
pemeliharaan ternak besar serta konstruksi dinding rumah. Depkes RI (1999),
adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi gigitan nyamuk
pada manusia apabila kandang tersebut diletakan di luar rumah pada jarak
tertentu (cattle barrier). Demikian juga lokasi rumah dekat tempat
perindukan vektor serta desain, konstruksi rumah dapat mengurangi kontak antara
manusia dengan vektor. Rumah dengan dinding yang terbuka karena konstruksi yang
tidak lengkap ataupun karena bahan baku yang membuatnya bercelah, meningkatkan
resiko kontak dengan nyamuk (Suwadera,2003).
b. Lingkungan kimia
Dari lingkungan ini
yang baru di ketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan.
Sebagai contoh An. sundaicus tumbuh
optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12-18 % dan tidak
dapat berkembang biak pada kadar garam 40% keatas. Meskipun di beberapa tempat
di sumatra Utara An. sundaicus
ditemukan pula dalam air tawar dan An.
letifer dapat hidup di tempat yang asam/ PH rendah.
c. Lingkungan Biologi
Lingkungan biologi
berpengaruh terhadap kehidupan nyamuk, baik bersifat menguntungkan maupun
merugikan. Keberadaan tanaman air seperti tanaman bakau, ganggang, lumut dapat
melindungi larva nyamuk dari sinar matahari langsung maupun serangan makhluk
lainnya. Demikian juga keberadaan
binatang pemakan jentik seperti ikan nila, mujair, gambusia dan ikan kepala
timah.
4. Faktor parasit
Parasit harus ada dalam
tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan
betina pada saat yang sesuai untuk penularan. Parasit juga harus menyesuaikan
diri dengan sifat spesies vektor anopheles
agar sporogoni di mungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif.
Sifat parasit berbeda-beda untuk setiap spesies dan mempengaruhi terjadinya
manifestasi klinis dan penularan. Plasmodium
falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek namun menghasilkan
parasitemia paling tinggi, gejala yang paling berat dan masa inkubasi yang
paling pendek. P. falciparum baru berkembang setelah
8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah. Gametosit P.falciparum menunjukkan periodisitas
dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor. P. vivax dan P. ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah, gejala
yang lebih ringan dan masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit P. vivax dan ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan
hipnozoit. Hipnosoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps (Gunawan,
2000)
Sebagian besar kematian karena malaria disebabkan oleh malaria berat karena
infeksi plasmodium falciparum.
Penelitian in vitro Chotivanich, dkk menunjukkan parasit pasien malaria berat
mempunyai kemampuan multiplikasi 3 kali lebih besar dibandingkan parasit yang
didapat dari pasien malaria tanpa komplikasi.
Selain itu parasit malaria berat juga mampu menghasilkan toksin yang
sangat banyak (Nugroho, 2010)
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Definisi malaria
Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh
infeksi protozoa dari genus Plasmodium Masa tunas/inkubasi penyakit ini dapat beberapa hari sampai
beberapa bulan.
2. Gejala Penyakit
Gejala klasik
adalah : suatu parokisme yang terdiri dari 3 stadium, yaitu:
- Mengigil 15 - 60 menit
- Demam 2 - 6 jam; timbul setelah penderita mengigil, demam biasanya suhu sekitar 37,5 – 40 derajat, pada penderita hiper parasitemia (> 5%) suhu meningkat sampai > 40 derajat celsius berlangsung
- Berkeringat selama 2-4 jam, timbul setelah demam terjadi akibat gangguan metabolisme.
3. Cara Penularan
Penyakit Malaria
ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang mengandung parasit:
- Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika.
- Plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana
- Plasmodium malarie penyebab malaria quartiana
- Plasmodium ovale jarang ditemukan di Indonesia
Ciri-ciri
penyakit malaria adalah : sewaktu mengigit akan membentuk sudut sekitar 45
derjat.
4. Siklus Parasit Malaria
Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit
malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk
masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Dalam siklus hidupnya parasit malaria
membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer).
Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit/kriptozoit yang masuk ke erotrosit
membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer). Disitu mulai
bentuk troposit muda sampai sizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan
keluar merozoit
5. Kewaspadaan Masyarakat
Bila masyarakat menjumpai anggota keluarga atau tetangga
dilingkungan dengan gejala diatas segera dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan
darah tepi.
6. Pencegahan
Penyakit
Pencegahan
dilakukan dengan :
- Pemberantasan Sarang Nyamuk yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk.
- Pemberian ikan kepala pada tempat jentik nyamuk anopheles tinggal
- Larvasasi tempat perindukan nyamuk anopheles.
- Penggunaan kelambu
- Menggunakan revelen sewaktu keluar / bekerja di luar rumah pada daerah endemis malaria.
7. Pengobatan
Pengobatan tergantung sensifitas dan jenis penyebabnya,
dapat dipilih obat anti malaria yang paling tepat untuk setipa. Pengobatan
terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk penderita malaria, masyarakat
yang akan berangkat kedaerah endemis dan masyarakat yang datang dari daerah
endemis.
8. Sistem Kewaspadaan Dini
Laporan penderita penyakit dari rumah sakit dikirim ke
Puskesmas di wilayah penderita untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi. Bila
PE positif maka hal yang dilakukan adalah:
- Spraying dilaksanakan pada kasus-kasus dengan PE positif, yaitu sekitar 20 rumah dari kasus indeks.
- Daerah KLB/ wabah DBD
3.2
SARAN
Disarankan agar pemerintah
dapat memperhatikan kondisi rakyat kecil yang sangat rentan terkena penyakit
malaria sebelum terjadi kejadian luar biasa (KLB)
DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor,
Direktorat Jenderal PPM-PL, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 2001.
Nugroho, Agung. 2010. Malaria Dari Molekuler ke Klinis.Jakarta : EGC
Nugroho, Agung. 2010. Malaria Dari Molekuler ke Klinis.Jakarta : EGC
Widoyono, 2008. Penyakit
Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasanya.Jakarta :
Penerbit Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar