Senin, 06 Juni 2016

MALARIA



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
            Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. Malaria pada manusia dapat disebabkan oleh P. malariae, P.vivax, P. falciparum dan P. ovale. Penularan malaria dilakukan oleh nyamuk betina dari Anopheles, sehingga terjadi infeksi pada sel darah merah oleh Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles, transfusi darah, dan suntikan dengan jarum yang sebelumnya telah digunakan oleh penderita malaria. Pada tubuh manusia, parasit membelah diri dan bertambah banyak di dalam hati dan kemudian menginfeksi sel darah merah.(10)
Telah ditemukan 67 spesies yang dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya ditemukan di Indonesia. Selain oleh gigitan nyamuk, malaria dapat ditularkan secara langsung melalui transfusi darah atau jarum suntik yang tercemar darah serta dari ibu hamil kepada bayinya.(10)
Di Indonesia malaria ditemukan tersebar luas di semua pulau dengan derajat dan berat infeksi yang berbada-beda. Penyakit tersebut dapat berjangkit di daerah yang mempunyai ketinggian sampai dengan 1.800 meter diatas permukaan laut. Spesies terbanyak yang dijumpai adalah P. falciparum, P. vivax, P. ovale, yang pernah ditemukan di Papua dan Nusa Tenggara Timur. Kondisi wilayah dengan adanya genangan air dan udara yang panas mempengaruhi tingkat endemisitas penyakit malaria di suatu daerah.
Setiap tahunnya, sekitar 1,2 juta orang di seluruh dunia meninggal karena penyakit malaria. Demikian menurut data terbaru yang dimuat dalam jurnal kesehatan Inggris, The Lancet. Angka yang dilansir itu jauh lebih tinggi dari perkiraan WHO tahun 2010 yakni 655.000.
Banyak yang mengira penyakit malaria sama dengan demam berdarah karena punya gejala yang mirip dan sama-sama ditularkan oleh nyamuk. Namun perlu diketahui bahwa keduanya berbeda. Malaria disebabkan oleh nyamuk anopheles yang membawa parasit plasmodium, sementara demam berdarah disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus Dengue. 
B.  TUJUAN
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas dari dosen pembimbing, selain itu penulisan makalah ini juga bertujuan untuk membuka wawasan dan cara berpikir kita agar dapat memahami berapa pentingnya menjaga kesehatan


























BAB II

PEMBAHASAN

A.    Malaria

1.    Definisi Malaria
                   Malaria adalah salah satu penyakit menular yang bersifat akut maupun kronis. Terdiri dari kata mal dan area yang berarti udara yang busuk, diambil dari kondisi yang terjadi yaitu suatu penyakit yang banyak diderita masyarakat yang tinggal di sekitar rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk (Gandahusada dkk,1998). Penyakit malaria merupakan infeksi yang disebabkan oleh parasit malaria, suatu protozoa darah genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk anopheles betina yang terinfeksi  (Nugroho,2000).
2.    Gejala Klinis Malaria
       Gejala klinis malaria merupakan petunjuk yang penting dalam diagnosis malaria. Manifestasi klinis malaria sangat khas dengan adanya serangan demam yang intermitten, anemia dan splenomegali. Penyakit ini cenderung untuk beralih dari demam akut ke keadaan menahun. Selama stadium akut terdapat masa demam yang intermitten.  Sedangkan pada infeksi oleh plasmodium vivax, panas bersifat ireguler, kadang-kadang remiten atau intermiten.  Dalam stadium menahun berikutnya terdapat masa laten yang diselingi kambuh  beberapa kali.  Kambuhnya penyakit ini sangat mirip dengan serangan pertama. Sementara itu rekrudensi sering terjadi pada infeksi yang disebabkan plasmodium malariae ( Harijanto,2010).
                   Demam yang terjadi pada penderita berhubungan dengan proses skizogoni (pecahnya merozoit/skizon). Berat ringannya pun tergantung pada jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. Di Indonesia sampai saat ini terdapat empat macam plasmodium penyebab infeksi malaria yaitu :
a.    Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika yang menimbulkan demam tiap 24-48 jam,
b.    Plasmodium vivax penyebab malaria tertiana yang menimbulkan demam tiap hari ke 3
c.    Plasmodium malariae penyebab malaria kuartana yang menimbulkan demam tiap hari ke 4
d.   Plasmodium ovale penyebab malaria ovale, memberikan infeksi yang paling ringan dan sering sembuh spontan tanpa pengobatan (Harijanto, 2010).
Selain itu, pada infeksi malaria terdapat gejala klasik malaria akut yang sering di sebut Trias Malaria, secara berurutan :   

a.    Periode dingin.

Stadium ini mulai dengan menggigil, kulit dingin dan kering.  Gigi gemeretak dan penderita biasanya menutup tubuhnya dengan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah. Bibir dan jari pucat kebiru-biruan, kulit kering dan pucat. Stadium ini berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam. diikuti meningkatnya temperatur.

b.    Periode demam

Setelah merasa kedinginan, pada stadium ini penderita merasa kepanasan. Suhu badan dapat meningkat sampai 40°C atau lebih. Muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, nadi cepat, respirasi meningkat, muntah-muntah dan dapat terjadi syok (tekanan darah turun)  bahkan sampai terjadi kejang (pada anak).  Stadium ini berlangsung lebih lama dari periode dingin,  antara 2 sampai 4 jam. Demam disebabkan oleh pecahnya sison darah yang telah matang dan masuknya merozoit ke dalam aliran darah.

c.    Periode Berkeringat.
Pada periode ini penderita berkeringat banyak sekali sampai-sampai tempat tidurnya basah. Temperatur turun dan penderita merasa capek dan biasanya dapat tidur nyenyak. Pada saat bangun dari tidur merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain, stadium ini berlangsung antara 2 sampai 4 jam. Gejala-gejala yang disebutkan di atas tidak selalu sama pada setiap penderita, tergantung pada spesies parasit dan umur dari penderita, gejala klinis yang berat biasanya terjadi pada malaria tropika. Hal ini disebabkan oleh adanya kecenderungan parasit (bentuk trofosoit dan sison). Untuk berkumpul pada pembuluh darah organ tubuh seperti otak, hati dan ginjal sehingga menyebabkan tersumbatnya pembuluh darah pada organ-organ tubuh tersebut.

3.      Diagnosis malaria
     Diagnosis malaria umumnya didasarkan pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) dalam darah penderita. Manifestasi klinis demam malaria seringkali tidak khas dan menyerupai penyakit infeksi lain seperti demam dengue dan demam tifoid, sehingga sulit dilakukan diagnosa dengan mengandalkan pengamatan secara klinis saja, namun perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menunjang diagnosis malaria sedini mungkin. Pemeriksaan mikroskopis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar di peroleh nilai diagnostik yang tinggi yaitu dengan sensivitas dan spesifitas  yang tinggi. Syarat-syarat tersebut meliputi:
a.    Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir peroide demam memasuki periode berkeringat karena pada periode ini jumlah trofozoit mencapai jumlah maksimal dalam sirkulasi.
b.    Volume darah yang diambil sebagai sampel cukup untuk sediaan darah tipis ( 1 – 1,5 mikroliter) dan sediaan darah tebal (3-4 mikroliter)
c.    Kualitas preparat harus baik agar terjamin kualitas identifikasi spesies plasmodium dengan tepat (Purwaningsih, 2000).
4.    Epidemiologi Malaria
            Penularan malaria banyak terjadi pada kebanyakan daerah tropis dan sub tropis,  terutama terdapat pada daerah dimana orang-orang  mempunyai gametosit dalam darahnya  sehingga menjadikan nyamuk anopheles terinfeksi dan menularkan pada orang yang sehat. Walaupun  Amerika Serikat, Kanada, Eropa, Australia dan Israel sekarang bebas  malaria lokal, wabah setempat dapat terjadi melalui infeksi nyamuk lokal oleh wisatawan yang datang dari daerah endemis (Nelson, 2000).
            Daerah yang sejak semula bebas malaria adalah Pasifik Tengah dan Selatan (Hawai dan Selandia Baru). Ini terjadi karena di daerah tersebut malaria tidak dapat berlangsung dalam tubuh nyamuk anopheles  (Anophelism without malaria) karena kondisi iklim/temperatur yang tidak sesuai (Sutanto dkk, 2008).
            Batas dari penyebaran malaria adalah 64°LU (Rusia)  dan 32°LS (Argentina) dengan ketinggian yang dimungkinkan adalah 400 meter di bawah permukaan laut (Laut mati) dan 2600 meter di atas permukaan laut (Bolivia). Plasmodium vivax mempunyai distribusi geografis yang paling luas, mulai dari daerah beriklim dingin, subtropik sampai ke daerah tropik. Plasmodium ovale pada umumnya dijumpai di Afrika di bagian yang beriklim tropik, kadang-kadang dijumpai di Pasifik Barat (Rampengan, 2010).  Di Asia Tenggara negara-negara yang termasuk wilayah endemi malaria adalah : Bangladesh,  Bhutan, India, Indonesia, Maldives, Myanmar, Nepal, Srilanka dan Thailand.
Di Indonesia penyakit malaria tersebar di seluruh pulau dengan derajat endemisitas yang berbeda-beda dan dapat berjangkit di daerah dengan ketinggian sampai 1800 meter di atas permukaan laut. Penduduk yang paling berisiko terkena malaria adalah anak balita, wanita hamil dan penduduk non imun yang mengunjungi daerah endemik malaria.  Angka API di pulau Jawa dan Bali pada tahun 2000 ialah 0,81 per 1000 penduduk turun menjadi 0,15 per 1000 penduduk pada tahun 2004. Sedangkan di luar Jawa-Bali angka AMI tetap tinggi  yaitu 31,09 per 1000 penduduk pada tahun  2000, turun menjadi 20,57 per 1000 penduduk tahun 2004. Spesies yang terbanyak dijumpai adalah Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax, Plasmodium malaria banyak dijumpai di Indonesia bagian Timur sedangkan Plasmodium ovale pernah ditemukan di Irian dan Nusa Tenggara Timur (Rampengan, 2010).



5.    Siklus Hidup Parasit Malaria
a.    Siklus Aseksual Dalam Tubuh Manusia
1)    Siklus di luar sel darah merah
Siklus di luar sel darah merah (eksoeritrositer) berlangsung dalam hati. Stadium ini dimulai saat nyamuk anopheles betina menggigit manusia dan memasukan sporozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam darah manusia. Beberapa menit kemudian (0,5-1 jam) sporozoit tiba di hati dan menginfeksi hati. Di hati sporozoit mengalami reproduksi aseksual (skizogoni) atau proses pemisahan dan menghasilkan  parasit anak  (merozoit) yang kemudian akan di keluarkan dari sel hati.  Pada plasmodium vivax dan plasmodium ovale ditemukan dalam bentuk laten dalam hati yang disebut hipnosoit, yang merupakan suatu fase hidup parasit malaria yang nantinya dapat menyebabkan kumat/kambuh/rekurensi (long term relapse).  P.vivax dapat kambuh berkali-kali sampai jangka waktu 3-4 tahun sedangkan P. Ovale sampai bertahun-tahun jika tidak di obati dengan baik.
2)    Siklus dalam sel darah merah
Siklus dalam darah dimulai dengan keluarnya merozoit dari skizon matang di hati ke sirkulasi. Siklus dalam sel darah merah (eritrositer) ini terbagi menjadi siklus sisogoni yang menimbulkan demam dan siklus gametogoni yang menyebabkan seseorang menjadi sumber penularan bagi nyamuk (Depkes RI,1999).
b.    Siklus Seksual Dalam Tubuh Nyamuk
Gametosit matang dalam darah penderita yang terhisap oleh nyamuk akan mengalami pematangan menjadi gamet (gametogenesis) sedangkan parasit malaria yang berbentuk trofozoit, skizon, merozoit dicerna dalam lambung nyamuk. Mikro gametosit membelah menjadi 4-8 mikro gamet (gamet jantan) dan makro gametosit mengalami kematangan menjadi makro gamet (gamet betina). Kemudian pembuahan terjadi antara mikro gamet dan makro gamet yang disebut zigot. Pada mulanya berbentuk bulat kemudian berubah menjadi memanjang dan dapat bergerak dan disebut ookinet. Ookinet menembus dinding lambung dan menjadi bentuk bulat disebut ookista. Ookista makin lama makin besar dan di dalamnya intinya membelah-belah dan masing-masing inti diliputi protoplasma dan mempunyai bentuk memanjang (10-15 mikron) di sebut sporozoit. Ookista akan pecah dan ribuan sporozoit akan dibebaskan dalam rongga nyamuk yang kemudian akan mencapai kelenjar liur. Nyamuk anopheles betina menjadi siap menularkan penyakit malaria. Prinsip pemberantasan malaria antara lain didasarkan pada siklus ini yaitu dengan mengusahakan umur nyamuk lebih pendek dari masa inkubasi ekstrinsik sehingga siklus sporogoni (karena menghasilkan sporozoit) tidak dapat berlangsung (Gandahusada,1998).  Berikut gambar siklus hidup parasit malaria dalam tubuh nyamuk dan manusia (Tetriana, 2007):
Gambar 2.1 Siklus Hidup Parasit Malaria



6.    Cara Penularan
a.    Penularan secara alamiah (natural infection) terjadi pada nyamuk anopheles.
b.    Penularan tidak alamiah
1)   Malaria bawaan (kongenital), terjadi pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria, penularan terjadi melalui tali pusat atau plasenta.
2)   Secara Mekanik, penularan terjadi melalui transfusi darah atau melalui jarum suntik  yang  tidak steril.  Penularan lewat jarum suntik juga banyak terjadi pada pecandu obat bius yang menggunakan jarum suntik yang tidak steril. Malaria lewat transfusi hanya menghasilkan siklus eritrositer karena tidak melalui sporozoit yang memerlukan siklus hati sehingga dapat di obati dengan mudah
3)   Secara Oral, cara penularan ini pernah dibuktikan pada burung, ayam (P.gallinasium), burung dara (P.Relection) dan monyet (P.Knowlesi)  yang akhir-akhir ini dilaporkan menginfeksi manusia (Rampengan, 2010).
7.    Penilaian Situasi Malaria
Surveilans epidemiologi terhadap penyakit dapat menentukan penilaian situasi suatu penyakit, di antaranya malaria. Pengamatan yang terus menerus atas distribusi dan kecenderungan penyakit malaria melalui pengumpulan data yang sistematis sangat diperlukan untuk penentuan penanggulangan yang terbaik dan tepat sasaran.  Untuk pengamatan rutin malaria beberapa parameter yang digunakan seperti di bawah ini :
a.         Annual Parasite Incidence (API) yaitu jumlah sediaan darah yang positif dari sejumlah sediaan darah yang diperiksa per tahun, biasanya dinyatakan dalam per 1000 penduduk. Angka ini dipakai untuk wilayah Jawa dan Bali.
b.         Annual Malaria Incidence (AMI) yaitu jumlah malaria klinis tanpa pemeriksaan laboratorium per tahun dibandingkan dengan jumlah penduduk. Angka ini  dinyatakan dalam per 1000 penduduk dan dipakai untuk wilayah luar Jawa dan Bali yang belum semunya dapat dilakukan pemeriksaan laboratorium akibat keterbatan sumber daya.
c.         Parasite Rate (PR) adalah persentase penduduk yang darahya mengandung parasit malaria pada saat tertentu.  Kelompok umur yang dicakup biasanya yang berusia 2-9 tahun dan 0 -1 tahun. PR pada golongan 0 -1  disebut Infant Parasite Rate (IPR) yang bermakna adanya transmisi lokal.
d.        Spleen  Rate (SR), merupakan persentase orang dengan pembesaran limfa dalam masyarakat. Angka limfa ini merupakan petunjuk bahwa suatu daaerah endemis malaria.
e.         Slide Positive Rate (SPR),  adalah persentase sediaan darah yang positif pada kegiatan penemuan kasus, dilakukan secara aktif maupun pasif dibandingkan dengan seluruh sediaan darah yang di periksa.
8.    Pemberantasan Malaria
       Setiap upaya pemberantasan malaria yang dilakukan bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian sedemikian rupa sehingga penyakit ini tidak lagi merupakan masalah kesehatan.  Hal mendasar yang dilakukan untuk pemberantasan penyakit ini adalah dengan memutuskan mata rantai daur hidup parasit dalam tubuh manusia serta memusnahkan nyamuknya.
       Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kejadian malaria ialah :
a.       Menghindari/mengurangi gigitan nyamuk anopheles dengan pemakaian kelambu, repelen dan obat nyamuk.
b.      Membunuh nyamuk dewasa dengan menggunakan insektisida
c.       Membunuh jentik baik secara kimiawi (larvasida ) maupun secara biologik (ikan pemakan jentik, tumbuhan, penggunaan bacillus thurigiensis).
d.      Mengurangi tempat perindukan (source reduction) dengan modifikasi dan manipulasi lingkungan.  Modifikasi dilakukan seperti menimbun tempat-tempat tergenang atau mengeringkannya  sedangkan manipulasi merupakan upaya mengubah keadaan lingkungan sedemikian rupa sehingga tidak cocok untuk perkembangan vektor.
e.       Mengobati penderita malaria.
f.       Pemberian pengobatan pada penderita.
Pemberian profilaksis, terutama bagi mereka yang akan bepergian ke tempat –tempat yang endemis malaria.

9.    Pengobatan Malaria
       Pengobatan malaria didasarkan pada ada tidaknya parasit malaria dan seharusnya tidak hanya didasarkan pada gejala klinis. Sebaliknya pada banyak individu yang imun (tinggal di daerah endemik) ditemukan parasit malaria dalam darahnya namun tidak ditemukan gejala malaria seperti demam. Pada keadaan ini seharusnya diberikan pengobatan untuk mencegah transmisi dan kemungkinan menjadi malaria berat, terutama pada anak-anak dan orang dewasa non imun, malaria dapat berkembang  cepat menjadi keadaan yang buruk. Kegagalan pada pengobatan malaria ringan dapat menyebabkan terjadinya malaria berat, meluasnya malaria karena transmisi infeksi, menyebabkan infeksi berulang dan bahkan timbulnya resistensi
       Tujuan pengobatan secara umum adalah untuk mengurangi kesakitan, mencegah kematian, menyembuhkan penderita dan mengurangi kerugian akibat sakit. Selain itu upaya pengobatan mempunyai peranan penting yaitu mencegah kemungkinan terjadinya penularan penyakit dari seorang yang menderita malaria kepada orang-orang sehat lainnya.
       Pengobatan malaria yang tidak tepat dapat menyebab resistensi, sehingga menyebabkan meluasnya malaria dan meningkatnya morbiditas. Untuk itu WHO telah merekomendasikan pengobatan malaria secara global dengan penggunaan regimen obat ACT (Artemisin  Combination Therapy) dan telah disetujui oleh Depkes RI sejak tahun 2004 sebagai obat lini I diseluruh Indonesia. Pengobatan dengan ACT harus disertai dengan kepastian ditemukannya parasit malaria secara mikroskopik atau sekurang-kurangnya dengan pemeriksaan RDT (Rapid Diagnostic Test). Pengobatan ACT yang direkomendasikan meliputi :
1.      Kombinasi artemeter + lumefantrin (AL)
2.      Kombinasi artesunate + amodikuin
3.      Kombinasi artesunate + meflokuin
4.      Kombinasi artesunate + sulfadoksin – pirimetamin
Berikut ini adalah penatalaksanaan malaria ringan/tanpa komplikasi berdasarkan konsensus Departemen Kesehatan, rekomendasi Tim ahli Malaria Depkes RI serta pedoman WHO tahun 2006 :
1.      Pengobatan Malaria P. falciparum
Lini I : Artesunate + Amodikuin (1 tablet artesunate 50 mg dan 1 tablet amodikuin 200 mg. Dosis artesunate ialah 4 mg/kg BB/hari selama 3 hari dan dosis amodiakuin ialah 10 mg/kg BB/hari selama 3 hari.
Tabel 2.1. Pengobatan Lini I, Plasmodium Falciparum berdasarkan Usia

Hari
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis Tunggal
0-1 bulan
2-11 bulan
1-4 tahun
5-9 tahun
10-14 tahun
> 15 tahun
1
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4

Primakuin
-
-
3/4
1 1/2
2
2-3
2
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4
3
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4

Pada kasus-kasus dengan kegagalan artesunate+amodiakuin maka Kombinasi artemeter-lumefantrin (AL)  dapat di pakai sebagai obat pilihan pertama

2.      Pengobatan Malaria oleh P. vivax/ovale/malariae
Tabel 2.2 Pengobatan Lini I malaria vivaks dan malaria ovale
Hari
Jenis Obat
Jumlah tablet menurut kelompok umur
Dosis Tunggal
0-1 bulan
2-11 bulan
1-4 tahun
5-9 tahun
10-14 tahun
> 15 tahun
1
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4

Primakuin
-
-
1/4
1/2
3/4
1
2
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4

Primakuin
-
-
1/4
1/2
3/4
1
3
Artesunate
1/4
1/2
1
2
3
4

Amodiakuin
1/4
1/2
1
2
3
4

Primakuin
-
-
1/4
1/2
3/4
1
4-14
Primakuin
-
-
1/4
1/2
3/4
1

Jika terjadi kegagalan pengobatan lini I maka dapat digunakan kombinasi dihidroartemisin+piperakuin atau artemeter-lumefantrin atau artesunate + meflokuin (Harijanto, 2010)

B.     Vektor Malaria

Nyamuk anopheles di seluruh dunia meliputi ± 2000 spesies, yang ada di Indonesia berjumlah lebih dari 80 spesies, namun tidak semua jenis spesies anopheles berperan penting dalam penularan.  Sampai saat ini di Indonesia telah ditemukan sejumlah 24 spesies anopheles yang dapat menularkan malaria. Semua vektor tersebut hidup sesuai dengan kondisi ekologi setempat.  Berikut beberapa jenis vektor anopheles yang predominan di Nusa Tenggara Timur (Gunawan,2000):
1.    Anopheles aconitus
Vektor jenis An. aconitus betina paling sering menghisap darah ternak dibandingkan darah manusia. Perkembangan vektor jenis ini sangat erat hubungannya dengan lingkungan dimana kandang ternak yang ditempatkan satu atap dengan rumah penduduk.
Vektor An.aconitus biasanya aktif mengigit pada waktu malam hari, hampir 80% dari vektor ini bisa dijumpai di luar rumah penduduk antara jam 18.00 -22.00.  Nyamuk jenis An. aconitus ini hanya mencari darah di dalam rumah penduduk, setelah itu biasanya langsung keluar. Nyamuk ini biasanya suka hinggap di daerah-daerah yang lembab seperti di pinggir-pinggir parit, tebing sungai, dekat air yang selalu basah dan lembab. Tempat perindukan vektor An. aconitus terutama di daerah persawahan dan saluran irigasi. Persawahan yang berteras merupakan tempat yang baik untuk perkembangan nyamuk ini.
2.    Anopheles sundaicus
Pada vektor jenis ini umurnya lebih sering menghisap darah manusia dari pada darah binatang. Nyamuk ini aktif menggigit sepanjang malam tetapi paling sering antara pukul 22.00 - 01.00 dini hari. Pada waktu malam hari nyamuk masuk ke dalam rumah untuk mencari darah, hinggap di dinding baik sebelum maupun sesudah menghisap darah.
Vektor An. sundaicus biasanya berkembang biak di air payau, yaitu campuran antara air tawar dan air asin, dengan kadar garam optimum antara 12% -18%. Penyebaran jentik di tempat perindukan tidak merata di permukaan air, tetapi terkumpul di tempat-tempat tertutup seperti di antara tanaman air yang mengapung, sampah dan rumput - rumput di pinggir sungai atau pun parit.
3.    Anopheles  maculatus.
Vektor An. maculatus betina lebih sering menghisap darah binatang daripada darah manusia. Vektor jenis ini aktif mencari darah pada malam hari antara pukul 21.00 hingga 03.00.
Nyamuk ini berkembang biak di daerah pegunungan, dimana tempat perindukan yang spesifik vektor An. maculatus adalah di sungai yang kecil dengan air jernih, mata air yang mendapat sinar matahari langsung. Di kolam dengan air jernih juga ditemukan jentik nyamuk ini, meskipun densitasnya rendah.  Densitas An. maculatus tinggi pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan vektor jenis ini agak berkurang karena tempat perindukan hanyut terbawa banjir.
  1. Anopheles barbirostris.
       Jenis nyamuk ini di Sumatera dan Jawa jarang menggigit orang tetapi lebih sering dijumpai menggigit binatang peliharaan. Sedangkan pada daerah Sulawesi, Nusa Tenggara Timur dan Timor-Timur nyamuk ini lebih sering menggigit manusia daripada binatang. Jenis nyamuk ini biasanya mencari darah pada waktu malam hingga dini hari berkisar antara pukul 23.00 - 05.00. Frekuensi mencari darah tiap tiga hari sekali. Pada siang hari nyamuk jenis ini hanya sedikit yang dapat ditangkap, di dalam rumah penduduk, karena tempat istirahat nyamuk ini adalah di alam terbuka, paling sering hinggap pada pohon-pohon dan tanaman perdu disekitar rumah. Tempat berkembang biak (perindukan) vektor ini biasanya di sawah-sawah dengan saluran irigasinya kolam dan rawa-rawa (Hiswani,2004).
5.      Anopheles balabacensis
       Spesies ini merupakan spesies yang antropofilik, lebih menyukai darah manusia ketimbang darah binatang. Nyamuk ini mempunyai kebiasaan menggigit pada tengah malam hingga menjelang fajar sekitar jam 4 pagi. Spesies ini memiliki habitat asli di hutan-hutan berkembang biak di genangan air tawar. Pada siang hari sulit sekali menemukan nyamuk ini dalam rumah. Mereka lebih menyukai hutan-hutan atau semak di sekitar pekarangan rumah.
6.      Anopheles subpictus
       Anopheles subpictus lebih menyukai darah ternak ketimbang darah manusia. Nyamuk ini aktif sepanjang malam dan beristirahat di dinding rumah. Jentik nyamuk ini sering dijumpai bersama jentik An. sundaicus, namun lebih toleran terhadap salinitas yang rendah mendekati tawar (Achmadi,2005)

C. Beberapa faktor Yang mempengaruhi Kejadian Malaria

1.         Faktor Manusia ( Host)
a.    Karakteristik manusia
1)                 Umur
Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi malaria. Beberapa studi menunjukkan  bahwa anak yang bergizi baik justru lebih sering  mendapat kejang dan malaria serebral dibanding dengan anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang bergizi baik  dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk (Gunawan,2000).
2)        Jenis Kelamin
Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin, tetapi apabila menginfeksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang berat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa perempuan mempunyai respon yang kuat dibandingkan laki-laki, namun kehamilan menambah risiko malaria.
3)        Imunitas
           Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya terbentuk imunitas dalam tubuhnya, demikian juga yang tinggal di daerah endemis biasanya mempunyai imunitas alami terhadap malaria.
4)        Ras
       Beberapa ras di Afrika  mempunyai kekebalan terhadap malaria, misalnya sickle cell anemia dan ovalositas. Plasmodium falciparum dapat gagal matang pada anak dengan dengan sel sabit serta tidak mampu mencapai densitas tinggi pada anak dengan defisiensi glukose-6-fosfat dehidrogenase (Nelson,2000).
5)        Status gizi
Masyarakat dengan gizi kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap infeksi malaria. Hubungan antara penyakit malaria dan kejadian Kurang Energi Protein (KEP) merupakan masalah yang hingga saat ini masih kontrovesial. Ada kelompok peneliti yang berpendapat bahwa penyakit malaria menyebabkan kejadian KEP, tetapi sebagian peneliti berpendapat bahwa keadaan KEP yang menyebabkan anak mudah terserang penyakit malaria. Rice et al. mengatakan terdapat hubungan yang kuat antara malnutrisi dalam hal meningkatkan risiko kematian pada penyakit infeksi termasuk malaria pada anak-anak di negara berkembang. Penelitian Shankar yang menguji hubungan antara malaria dan status gizi menunjukkan bahwa malnutrisi protein dan energi mempunyai hubungan dengan morbiditas dan mortalitas pada berbagai malaria (Wanti,2008). Penelitian yang dilakukan oleh Suwadera menunjukkan bahwa balita dengan status gizi kurang berisiko menderita malaria 1,86 kali dibandingkan dengan yang berstatus gizi baik.
b.     Perilaku manusia
Manusia dalam keseharian mempuyai aktifitas yang beresiko untuk terkena panyakit malaria, diantaranya :
1)        Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik akan memudahkan kontak dengan nyamuk.  Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suwito (2005) menunjukkan bahwa responden yang mempunyai kebiasaan keluar rumah pada malam hari mempunyai risiko menderita malaria 4 kali lebih besar di banding dengan yang tidak mempunyai kebiasaan keluar pada malam hari.
2)        Tingkat kesadaran masyarakat tentang bahaya malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas  malaria dengan menyehatkan lingkungan, menggunakan kelambu. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Babba (2009) diperoleh bahwa orang yang tidur malam tidak menggunakan kelambu, mempunyai risiko terjangkit malaria sebesar 2,28 kali lebih besar dibandingkan yang menggunakan kelambu. 
3)        Memasang kawat kasa pada rumah dapat mengurangi masuknya nyamuk ke dalam rumah untuk menggigit manusia. Hasil penelitian Suwadera (2003) bahwa ada hubungan ventilasi yang di lengkapi kasa dengan kejadian malaria pada balita. Balita yang tinggal dalam rumah tidak di lengkapi dengan kawat kasa akan berisiko terkena malaria sebesar 3,41 kali dibandingkan balita yang tinggal di rumah dengan ventilasi memakai kawat kasa.
4)        Menggunakan obat nyamuk maupun repelen dapat menghindarkan diri dari gigitan nyamuk, baik hanya bersifat menolak ataupun membunuh nyamuk. Mereka yang mempunyai kebiasaan tidak menggunakan obat nyamuk mempunyai risiko terkena malaria sebesar 10,8 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang menggunakan obat anti nyamuk (Suwito,2005).
Selain perilaku-perilaku tersebut, berbagai kegiatan manusia seperti pembendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pembangunan pemukiman/transmigrasi sering mengakibatkan perubahan lingkungan yang menguntungkan penularan malaria. Selain hal tersebut diatas, terdapat juga beberapa karakteristik dari manusia yang dapat menyebabkan terjadinya malaria seperti pendidikan, pekerjaan, pengetahuan dan pendapatan.
Pendidikan yang semakin tinggi diharapkan berbanding lurus dengan tingkat pengetahuan, terutama untuk pencegahan malaria. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yahya, dkk (2005) makin tinggi tingkat pendidikan ibu cenderung makin tinggi tingkat pengetahuannya tentang malaria pada anak. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Babba (2008) bahwa ada hubungan antara pendidikan yang rendah dengan kejadian malaria dengan risiko terkena malaria sebesar 2,23 kali dibanding dengan orang yang berpendidikan tinggi.
Pekerjaan yang dilakukan seseorang mempunyai peranan dalam kejadian malaria. Hasil penelitian oleh Balai Penelitian Vektor dan Reservoar Penyakit  (BPVRP) juga menunjukkan hasil bahwa pekerjaaan yang berkaitan dengan pertanian mempunyai risiko untuk menderita malaria sebesar 4,1 kali lebih besar daripada yang bekerja selain dibidang pertanian.
Pendapatan berkaitan dengan kemampuan responden untuk mengupayakan pencegahan atau meminimalkan kontak dengan nyamuk misalnya dengan penggunaan kawat kasa atau membeli obat anti nyamuk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Babba (2008) menunjukkan bahwa orang yang mempunyai penghasilan yang kurang mempunyai risiko sebesar 4, 32 kali untuk menderita malaria.
2.         Nyamuk
Nyamuk anopheles terutama hidup didaerah tropik dan sub tropik, namun dapat juga hidup di daerah beriklim sedang bahkan dapat hidup di daerah Arktika. Jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2000-2500 m.  Efektifitas vektor untuk menularkan dipengaruhi hal-hal berikut :
a.         Kepadatan vektor dekat pemukiman manusia
b.         Kesukaan menghisap darah manusia
c.         Frekuensi menghisap darah (tergantung pada suhu)
d.        Lamanya sporogoni (berkembangnya parasit dalam nyamuk sehingga menjadi infektif)
e.         Lamanya hidup nyamuk harus cukup untuk sporogoni dan kemudian menginfeksi (Gunawan,2000).
Selain itu, perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria. Beberapa yang penting meliputi :
a.         Tempat istirahat di dalam rumah atau luar rumah (endofilik dan eksofilik)
b.         Tempat menggigit di dalam rumah atau luar rumah (endofagik dan eksofagik)
c.         Obyek yang di gigit, suka menggigit manusia atau hewan  (antrofofilik dan zoofilik).

3.         Faktor Lingkungan
a.    Lingkungan Fisik
1)                      Suhu Udara
              Suhu udara berpengaruh terhadap lamanya masa inkubasi ekstrinsik (panjang pendeknya siklus sprorogoni). Hal ini berperan dalam transmisi malaria.  Semakin tinggi suhu  antara 20-30 ᵒC  akan berakibat pada makin pendeknya masa inkubasi ekstrinsik, begitu juga sebaliknya. Pengaruh suhu terhadap masing-masing spesies tidak sama. Pada suhu 26,7 ᵒC masa inkubasi ekstrinsik pada spesies plasmodium berbeda yaitu : plasmodium falciparum (10-12 hari),  P. Vivax (8-11hari),  P. Malariae (14 hari) dan P. Ovale ( 15 hari)  ( Subbarao, 1998)
2)        Kelembaban udara
       Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, dengan tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang lebih tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit.
3)        Ketinggian
       Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakin bertambah, ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata-rata. Pada ketinggian diatas 2000 m jarang ada transmisi malaria, namun ini bisa berubah dengan adanya pemanasan bumi dan pengaruh dari El-Nino. Ini menyebabkan terjadinya perubahan pola musim di Indonesia yang berpengaruh terhadap perilaku nyamuk.
4)        Angin
Kecepatan dan arah angin berpengaruh terhadap kemampuan jarak terbang (flight range) nyamuk. Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam berpengaruh terhadap nyamuk yang keluar masuk rumah. Jarak terbang nyamuk dapat diperpendek atau diperpanjang sebagai akibat pengaruh adanya kecepatan angin.
5)        Hujan
       Siklus hidup dan perkembangan nyamuk dapat dipengaruhi oleh fluktuasi curah hujan. Hujan yang di selingi panas akan memperbesar kemungkinan perkembang biakan nyamuk  anopheles berlangsung sempurna.  Tetapi tidak semua spesies mempunyai kecenderungan yang sama.
6)        Sinar matahari
       Sinar matahari memberikan pengaruh berbeda pada spesies nyamuk. Nyamuk An. Aconitus lebih menyukai tempat untuk berkembang biak dalam badan air yang ada sinar mataharinya dan ada peneduh. Spesies yang lain lebih menyukai tempat yang rindang. Pengaruh sinar matahari terhadap pertumbuhan larva nyamuk berbeda-beda. Anopheles sundaicus lebih suka di tempat yang teduh, Anopheles hyrcarnus spp. Lebih suka di tempat yang terbuka sedangkan Anopheles balabacensis dapat hidup beradaptasi baik di tempat yang teduh maupun yang terang. Jentik An.maculatus di Kabupaten Banjarnegara (Yunianto,dkk.,2002) banyak ditemukan di antara batuan atau di bawah tanaman air yang terlindung dari sinar matahari langsung.
7)        Arus air
An. Balabacensis lebih menyukai tempat perindukan yang airnya tergenang atau mengalir sedikit, An. minimus menyukai tempat perindukan yang aliran airnya cukup deras dan An. letifer menyukai tempat yang airnya tergenang. Menurut laporan penelitian (Yunianto,2002) menyatakan bahwa An. maculatus berkembangbiak pada genangan  air di pinggir sungai dengan aliran lambat atau berhenti.
Selain hal tersebut diatas, beberapa lingkungan fisik yang terdapat disekitar manusia dan dalam kondisi yang sesuai dapat meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk infeksius, diantaranya seperti keberadaan tempat perindukan nyamuk, tempat pemeliharaan ternak besar serta konstruksi dinding rumah. Depkes RI (1999), adanya ternak besar seperti sapi dan kerbau dapat mengurangi gigitan nyamuk pada manusia apabila kandang tersebut diletakan di luar rumah pada jarak tertentu (cattle barrier).  Demikian juga lokasi rumah dekat tempat perindukan vektor serta desain, konstruksi rumah dapat mengurangi kontak antara manusia dengan vektor. Rumah dengan dinding yang terbuka karena konstruksi yang tidak lengkap ataupun karena bahan baku yang membuatnya bercelah, meningkatkan resiko kontak dengan nyamuk (Suwadera,2003).
b.    Lingkungan kimia
Dari lingkungan ini yang baru di ketahui pengaruhnya adalah kadar garam dari tempat perindukan. Sebagai contoh An. sundaicus tumbuh optimal pada air payau yang kadar garamnya berkisar antara 12-18 % dan tidak dapat berkembang biak pada kadar garam 40% keatas. Meskipun di beberapa tempat di sumatra Utara An. sundaicus ditemukan pula dalam air tawar dan An. letifer dapat hidup di tempat yang asam/ PH rendah.
c.    Lingkungan Biologi
Lingkungan biologi berpengaruh terhadap kehidupan nyamuk, baik bersifat menguntungkan maupun merugikan. Keberadaan tanaman air seperti tanaman bakau, ganggang, lumut dapat melindungi larva nyamuk dari sinar matahari langsung maupun serangan makhluk lainnya.  Demikian juga keberadaan binatang pemakan jentik seperti ikan nila, mujair, gambusia dan ikan kepala timah. 
4.    Faktor parasit
            Parasit harus ada dalam tubuh manusia untuk waktu yang cukup lama dan menghasilkan gametosit jantan dan betina pada saat yang sesuai untuk penularan. Parasit juga harus menyesuaikan diri dengan sifat spesies vektor anopheles agar sporogoni di mungkinkan dan menghasilkan sporozoit yang infektif.
Sifat parasit berbeda-beda untuk setiap spesies dan mempengaruhi terjadinya manifestasi klinis dan penularan. Plasmodium falciparum mempunyai masa infeksi yang paling pendek namun menghasilkan parasitemia paling tinggi, gejala yang paling berat dan masa inkubasi yang paling pendek.  P. falciparum baru berkembang setelah 8-15 hari sesudah masuknya parasit ke dalam darah. Gametosit P.falciparum menunjukkan periodisitas dan infektivitas yang berkaitan dengan kegiatan menggigit vektor. P. vivax dan P. ovale pada umumnya menghasilkan parasitemia yang rendah, gejala yang lebih ringan dan masa inkubasi yang lebih lama. Sporozoit P. vivax dan ovale dalam hati berkembang menjadi sizon jaringan primer dan hipnozoit. Hipnosoit ini yang menjadi sumber untuk terjadinya relaps (Gunawan, 2000)
Sebagian besar kematian karena malaria disebabkan oleh malaria berat karena infeksi plasmodium falciparum. Penelitian in vitro Chotivanich, dkk menunjukkan parasit pasien malaria berat mempunyai kemampuan multiplikasi 3 kali lebih besar dibandingkan parasit yang didapat dari pasien malaria tanpa komplikasi.  Selain itu parasit malaria berat juga mampu menghasilkan toksin yang sangat banyak (Nugroho, 2010)
           
     












BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.  Definisi malaria
Penyakit Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa dari genus Plasmodium Masa tunas/inkubasi  penyakit ini dapat beberapa hari sampai beberapa bulan.

2.  Gejala Penyakit
Gejala klasik adalah : suatu parokisme yang terdiri dari 3 stadium, yaitu:
  1. Mengigil 15 - 60 menit
  2. Demam 2 - 6 jam; timbul setelah penderita mengigil, demam biasanya suhu sekitar 37,5 – 40 derajat, pada penderita hiper parasitemia (> 5%) suhu meningkat sampai > 40 derajat celsius berlangsung
  3. Berkeringat selama 2-4 jam, timbul setelah demam terjadi akibat gangguan metabolisme.

3.  Cara Penularan
Penyakit Malaria ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles yang mengandung parasit:
  1. Plasmodium falciparum penyebab malaria tropika.
  2. Plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana
  3. Plasmodium malarie penyebab malaria quartiana
  4. Plasmodium ovale jarang ditemukan di Indonesia
Ciri-ciri penyakit malaria adalah : sewaktu mengigit akan membentuk sudut sekitar 45 derjat.

4.  Siklus Parasit Malaria
Ketika nyamuk anopheles betina (yang mengandung parasit malaria) menggigit manusia, akan keluar sporozoit dari kelenjar ludah nyamuk masuk ke dalam darah dan jaringan hati. Dalam siklus hidupnya parasit malaria membentuk stadium sizon jaringan dalam sel hati (stadium ekso-eritrositer). Setelah sel hati pecah, akan keluar merozoit/kriptozoit yang masuk ke erotrosit membentuk stadium sizon dalam eritrosit (stadium eritrositer). Disitu mulai bentuk troposit muda sampai sizon tua/matang sehingga eritrosit pecah dan keluar merozoit

5.  Kewaspadaan Masyarakat
Bila masyarakat menjumpai anggota keluarga atau tetangga dilingkungan dengan gejala diatas segera dibawa ke Puskesmas untuk pemeriksaan darah tepi.

6. Pencegahan Penyakit
Pencegahan dilakukan dengan :
  1. Pemberantasan Sarang Nyamuk yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk.
  2. Pemberian ikan kepala pada tempat jentik nyamuk anopheles tinggal
  3. Larvasasi tempat perindukan nyamuk anopheles.
  4. Penggunaan kelambu
  5. Menggunakan revelen sewaktu keluar / bekerja di luar rumah pada daerah endemis malaria.
7.  Pengobatan
Pengobatan tergantung sensifitas dan jenis penyebabnya, dapat dipilih obat anti malaria yang paling tepat untuk setipa. Pengobatan terhadap penyakit ini terutama ditujukan untuk penderita malaria, masyarakat yang akan berangkat kedaerah endemis dan masyarakat yang datang dari daerah endemis.

8.  Sistem Kewaspadaan Dini
Laporan penderita penyakit dari rumah sakit dikirim ke Puskesmas di wilayah penderita untuk dilakukan penyelidikan epidemiologi. Bila PE positif maka hal yang dilakukan adalah:
  1. Spraying dilaksanakan pada kasus-kasus dengan PE positif, yaitu sekitar 20 rumah dari kasus indeks.
  2. Daerah KLB/ wabah DBD

3.2 SARAN
Disarankan agar pemerintah dapat memperhatikan kondisi rakyat kecil yang sangat rentan terkena penyakit malaria sebelum terjadi kejadian luar biasa (KLB)


























DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI, Pedoman Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor, Direktorat Jenderal PPM-PL, Departemen Kesehatan RI, Jakarta 2001.
Nugroho, Agung. 2010. Malaria Dari Molekuler ke Klinis.Jakarta : EGC
Widoyono, 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan Pemberantasanya.Jakarta : Penerbit Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar